Tahapan Penyusunan Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi

Tahapan Penyusunan Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi

Tahapan Penyusunan Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi

Pernahkah Anda mengikuti sebuah sesi pembelajaran yang materinya terasa sangat teoretis namun sulit sekali diterapkan saat kembali ke meja kerja? Masalah ini sering terjadi karena materi yang disusun tidak memiliki jangkar pada kebutuhan nyata di lapangan. Padahal, inti dari pengembangan SDM yang sukses adalah memastikan setiap informasi yang disampaikan mampu mengubah perilaku dan meningkatkan keahlian teknis secara nyata.

“Materi yang baik bukan diukur dari seberapa tebal dokumennya, melainkan dari seberapa cepat peserta mampu mempraktikkan isinya.”

Oleh karena itu, menyusun materi harus dimulai dengan pemahaman mendalam tentang ekosistem kerja itu sendiri. Kita perlu melihat lebih dekat apa yang sebenarnya menjadi penghambat produktivitas di lapangan. Dengan menggeser fokus dari “apa yang ingin kita ajarkan” menjadi “apa yang mereka butuhkan untuk berhasil”, kita dapat menciptakan program yang jauh lebih berdampak bagi kemajuan perusahaan.

Mengapa Harus Berbasis Kompetensi?

Materi pelatihan berbasis kompetensi berfokus pada apa yang harus bisa dilakukan oleh seseorang setelah sesi berakhir. Berbeda dengan pendekatan akademis biasa, metode ini sangat spesifik dan terukur. Tujuannya jelas, yaitu menutup celah antara kemampuan yang dimiliki saat ini dengan standar yang ditetapkan oleh industri.

Tahapan Penyusunan Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi
Sumber: Freepik.com

Tahapan Sistematis dalam Penyusunan Materi

Agar materi yang dibuat benar-benar berbobot dan tepat sasaran, ada beberapa langkah yang perlu diikuti secara teratur:

  • Analisis Kebutuhan Kerja (TNA) Langkah awal adalah membedah standar kemampuan yang dibutuhkan pada posisi tertentu. Kita harus mencari tahu keterampilan apa yang paling kritis dan sering menyebabkan kendala. Tanpa analisis ini, materi yang dibuat berisiko menjadi tidak berguna karena tidak menjawab masalah nyata.
  • Menyusun Tujuan Pembelajaran yang Terukur Setelah tahu apa yang kurang, buatlah target yang jelas. Gunakan kata kerja yang bisa diamati, seperti “mampu mengoperasikan” atau “bisa menganalisis”. Hindari kata-kata yang terlalu abstrak agar keberhasilannya mudah dievaluasi di akhir sesi.
  • Pengembangan Modul dan Bahan Ajar Pada tahap ini, susunlah informasi secara bertahap mulai dari tingkat dasar hingga lanjut. Gunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami. Selain itu, sertakan banyak contoh kasus nyata agar peserta memiliki gambaran visual mengenai penerapan teori tersebut.
  • Menyiapkan Alat Ukur atau Asesmen Materi yang lengkap harus disertai dengan cara menguji kemampuan tersebut. Buatlah instrumen penilaian seperti lembar observasi praktik atau simulasi kerja. Hal ini penting untuk memastikan bahwa peserta benar-benar sudah mahir secara teknis.

Tips Agar Materi Lebih Menarik dan Mengalir

Penyusunan materi yang kaku sering kali membuat peserta cepat bosan. Berikut adalah beberapa cara untuk menyiasatinya:

  1. Gunakan Metode 70-20-10: Pastikan materi lebih banyak memuat porsi praktik atau simulasi (70%) dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan di kelas.
  2. Visualisasi yang Kuat: Manfaatkan diagram atau video pendek untuk menjelaskan konsep yang rumit. Visual yang tepat dapat mempercepat proses pemahaman dengan sangat cepat.
  3. Sediakan Panduan Praktis: Buatlah ringkasan kecil yang bisa dibawa pulang peserta sebagai panduan cepat saat mereka mulai bekerja kembali di unit masing-masing.

Penyusunan materi yang matang adalah investasi besar bagi organisasi. Dengan materi yang tepat, waktu yang dihabiskan untuk belajar akan berubah menjadi peningkatan hasil kerja yang signifikan.

Banyak profesional yang menyediakan panduan mendalam untuk mengoptimalkan desain instruksional dan meningkatkan kualitas pengembangan sumber daya manusia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program pemahaman penyusunan kurikulum berbasis kompetensi, teknik asesmen kerja, dan manajemen pengembangan modul yang sesuai dengan standar industri saat ini, silahkan hubungin Farzana Training, melalui Isti di nomor (+62 821-3611-8787).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Analisis Manfaat Tax Treaty bagi Pelaku Usaha di Indonesia Previous post Analisis Manfaat Tax Treaty bagi Pelaku Usaha di Indonesia
Mengenal Perbedaan SOP, Job Description, dan Work Instruction Next post Mengenal Perbedaan SOP, Job Description, dan Work Instruction